Mengenang Wafatnya Bung Karno, Hari ini Proklamator RI Tutup Usia

194

Pada 21 Juni, merupakan wafatnya Proklamator RI Soekarno. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto menjadi saksi bisu detik-detik terakhir kehidupan sang proklamator. Di penghujung usianya, ketika Orde Baru berkuasa, Soekarno seolah tak seindah jasa-jasanya untuk kemerdekaan Indonesia. Bung Karno wafat tanpa penghargaan dan penghormatan dari bangsanya.

"Semangatnya sudah hilang bertahun-tahun sebelum itu. Saat Jenderal Soeharto menahannya di Wisma Yaso, Sukarno diasingkan dari rakyat yang dicintainya. Bahkan keluarga pun dipersulit untuk menjenguknya," tulis @sejarahRI dalam buku Soekarno Poenja Tjerita terbitan tahun 2016, dilansir dari liputan6.com .

Ia wafat di ruang perawatan RSPAD Gatot Subroto, Minggu, 21 Juni 1970, pukul 07.07 WIB akibat mengidap komplikasi ginjal, gagal jantung, sesak nafas, dan reumatik. Sebelumnya, Bung Karno dikucilkan dan dilarang menginjakkan kaki di Jakarta. Ia tinggal di Istana Bogor, kemudian pindah ke Istana Batu Tulis.

Fakta sejarah yang dihimpun, hari- hari terakhir Bung Karno bermula setelah mosi tidak percaya parlemen bentukan nasution di tahun 1967 dan MPRS yang menunjuk Soeharto sebagai Presiden RI. Saat itu, Bung Karno menerima surat untuk segera meninggalkan istana dalam waktu 2×24 jam.

Barang-barang pribadi serta wajah para tentara yang diperintahkan Soeharto meninggalkan kesan untuk mengusir Bung Karno dengan cara tidak bersahabat.

Ketika itu, beberapa tentara sudah memasuki ruangan. Dalam pikiran Bung Karno yang ditakuti adalah bendera pusaka. Dengan kertas koran lalu ia masukkan bendera itu ke dalam baju yang dikenakan di dalam kaos oblong. Bung Karno tahu bendera pusaka tidak akan dirawat oleh rezim Soeharto dengan benar. Bung karno lalu menoleh pada ajudannya Saelan 

"Aku pergi dulu" kata bung karno hanya dengan mengenakan baju putih dengan celana panjang hitam.

Dalam buku lain berjudul IR. Soekarno karya Wahjudi Djaja, tertulis bahwa sakit yang diderita Sukarno sejak Agustus 1965 semakin parah. Ia kemudian memohon kepada Soeharto agar diizinkan kembali ke Jakarta melalui putrinya, Rachmawati.

Setelah mendapat izin, Bung Karno akhirnya pindah ke Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala) dengan status tahanan. Pengamanan terhadap sang proklamator diperketat. Alat sadap dipasang di setiap sudut rumah dan tak ada seorang pun yang boleh menjenguknya.

Bung Karno menderita sakit pada 16 Juni 1970. Ia dilarikan dari Wisma Yaso dan ditempatkan dalam sepetak kamar dengan penjagaan berlapis di lorong rumah sakit. Kondisi Bung Karno semakin buruk setiap harinya. Kesadarannya pun menurun pada Sabtu, 20 Juni 1970, pukul 20.30 WIB dan mengalami koma keesokan harinya.

Dokter Mahar Mardjono kemudian menghubungi anak-anak sang putra fajar dan menyuruh mereka datang. Tampak Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh, dan Rachmawati hadir di rumah sakit pada hari Minggu, 21 Juni 1970 pukul 06.30 WIB.

Pukul 07.00 WIB, dokter Mahar membuka pintu kamar sang proklamator. Anak-anaknya langsung menyerbu masuk ke ruang perawatan dan memberondong Mahar dengan pertanyaan. Namun, Mahar tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala.

Pukul tujuh lewat, perawat yang bertugas mulai mencabut selang makanan dan alat bantu pernapasan dari tubuh Sukarno. Anak-anak Sukarno kemudian mengucap takbir. Melihat kondisi sang ayah, Megawati membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. sebelum kalimat itu selesai, Sukarno mengucap nama sang pencipta.

"Allah...," bisik Sukarno pelan seiring embusan nafas terakhirnya.

Terdengar suara tangis pecah dari ruang kamar Sukarno pukul 07.07 WIB. Sang proklamator telah menghadap sang pencipta dan berakhirlah tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat.

Sebelum wafat, Sukarno sempat dijenguk Hatta di rumah sakit. "Ah apa kabarmu, No" sapa Hatta dengan penuh kesedihan.

Sukarno tak kuasa menahan air mata ketika melihat sahabatnya datang. Ia membalas sapaan itu dengan bahawa Belanda.

"Hoe gaat het met jou...?" atau "Senang bertemu denganmu."

Keduanya kemudian saling berjabat tangan dengan erat dan sangat lama. Sambil bergandengan, Sukarno dan Hatta mengenang masa-masa keduanya saat menghadapi kolonialisme.

"Sukarno merdeka dari penjaga, tembok-tembok tinggi, alat penyadap, dan para interogator. Ia telah bebas," tulis @sejarahRI dalam buku Soekarno Poenja Tjerita.

(Sumber : Liputan6.com/Eko Octa)

SHARE

KOMENTAR