Ini Pesan Bung Karno Saat Lebaran di Era Perjuangan Kemerdekaan

212
Foto : Alif.id

“Tak ada lebaran tanpa perjuangan,” demikianlah pesan Soekarno dalam tulisan seruannya mengenai Lebaran tahun 1362 H yang pernah ditayangkan di Majalah M.I.A.I. (Majlis Islam A’la Indonesia), edisi 1 Oktober 1943.

Soekarno tidak menyebut dengan jelas konteks tulisannya yang berjudul “Lebaran-Peperangan” itu. Dia hanya menyebut, “Inilah Lebaran-diwaktoe-perang jang kedua” (inilah Lebaran di waktu perang yang kedua). Kemungkinan besar maksudnya adalah Perang Dunia II (1939-1945) di Asia Pasifik.

“Peperangan makin memoentjak! Kita menghadapi elimaznja (memoentjaknja) peperangan sekarang ini! Insjafkah kita akan arti Lebaran kita itoe?”, tulis Soekarno dengan menggebu-gebu sebagaimana retorika lisannya yang selalu berapi-api.

Melansir alif.id, merujuk ulang pada sebuah pidatonya di radio pada 15 September 1943, mengutip Alqur’an surat asy-Syarh (94) ayat 5 beliau berusaha memaknai perang dan penderitaan serta harapan akan kemenangan.

“Saja katakan, bahwa tiada satoe bangsa yang tidak menderita dimasa perang, dan bahwa tiada bangsa mentjapai kemenangan, kalau tiada tahan-menderita. INNAMA’AL OESRI JOESRA, –kebahagiaan sesoedah kesoesahan!” (ejaan, tanda baca, huruf kapital dan huruf miring seperti naskah aslinya).

Lanjutnya, “Kita haroes merajakan Lebaran sekarang ini didalam semangat tahan-menderita itoelah! Satu boalan kita berpuasa! MELATIH DIRI TAHAN-MENDERITA! Marilah kita hadapi ,,tahoen jang baroe” ini sebagai satoe bangsa, jang benar-benar berlatih tahan-menderita didalam boelan Ramadhan.”

Di sini menarik mencermati bagaimana Soekarno mengkonstruksi pada satu sisi puasa sebagai penderitaan dan pada satu sisi lain Lebaran atau kemerdekaan sebagai buah hasil dari penderitaan atau perjuangan.

Di akhir tulisannya Sokarno menulis, “Maka kemenangan-achir pasti dipihak kita!”

Lebaran, Soekarno kecil Tak Mampu Beli Petasan

Idul Fitri yang dirayakan setiap tanggal 1 Syawal merupakan hari kemenangan bagi umat Islam yang telah menjalankan ibadah puasa Ramadan satu bulan penuh. Hari kemenangan yang oleh masyarakat Indonesia disebut hari Lebaran itu juga dirayakan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Kenangan sedih Sukarno di masa kecilnya dituangkan di dalam buku Bung Karno, Penjambung Lidah Rakjat Indonesia, yang merupakan terjemahan dari buku Sukarno an Autobiography as Told Cindy Adam pada 1966. Kisah muramnya Sukarno saat Lebaran terangkum di dalam bab ketiga buku tersebut dengan sub judul ‘Modjokerto: Kesedihan di Masa Muda’.

Saat itu, Sukarno kecil, hanya terbaring seorang diri di dalam kamar tidurnya. Ia terbaring di tempat tidur yang hanya cukup untuk dirinya sendiri. Hatinya yang gundah sesekali mengintip ke luar ke arah langit melalui tiga buah lubang udara yang kecil pada dinding bambu rumahnya. Lubang kecil itu besarnya kira-kira sebesar batu bata.

“Aku merasa diriku sangat malang. Hatiku serasa akan pecah. Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan di sela sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkannya. Mengapa semua kawanku dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya 1 sen itu, dan aku tidak!” ucap Sukarno kepada Cindy Adam yang mewawancarainya.

Suatu malam, di malam takbiran, seorang tamu datang menemui ayahnya, Raden Soekemi Sosrodihardjo. Tamu itu memegang bungkusan kecil di tangannya. “Ini,” kata tamu itu sambil mengulurkan bingkisan kecil kepada Sukarno kecil. Tangannya gemetar. Ia terharu menerima hadiah dan hampir tak sanggup membuka bingkisan kecil itu. Begitu dibuka di kamarnya, bingkisan itu berisi sebungkus petasan. 

“Tak ada harta, lukisan, ataupun istana di dunia ini yang dapat memberikan kegembiraan kepadaku seperti pemberian itu. Dan kejadian ini tak dapat kulupakan untuk selama-lamanya,” kenang Sukarno.

Sukarno, yang lahir di Peneleh, Surabaya, 6 Juni 1902, merupakan anak bangsawan. Ayahnya, Soekemi, merupakan seorang guru dengan gaji 25 gulden sebulan. Itu pun harus dipotong uang sewa rumah  di Jalan Pahlawan No 88, Mojokerto. Nyaris uang yang tersisa untuk hidup hanya 15 golden saja. Uang itu tak cukup untuk menghidupi keluarga Soekemi yang berjumlah empat orang, termasuk Sukarmi, kakak Sukarno.

“Kami sangat melarat, sehingga hampir tidak bisa makan satu kali dalam sehari. Yang terbanyak kami makan ialah ubi kayu, jagung tumbuk, dengan makanan lain. Bahkan Ibu tidak mampu membeli beras murah yang biasa dibeli oleh para petani,” jelas Sukarno lagi.

Ibu Sukarno hanya bisa membeli padi, bukan beras seperti di pasar. Ia harus menumbuk terlebih dahulu gabah itu agar bisa menjadi beras sebelum dimakan oleh keluarga. Hampir setiap hari Ida Ayu Nyoman melakukan itu, hingga telapak tangannya memerah dan melepuh. Sukarno sering iba dan membantu menumbuk gabah padi itu sebelum berangkat sekolah.

Foto : Pena Soekarno

Kemelaratan itu menjadi akrab bagi Sukarno sejak kecil. Satu-satunya sumber pelepas kepuasan hati Sukarno adalah ibunya, Ida Ayu Nyoman. “Ia adalah ganti gula-gula yang tak dapat kumiliki dan ia adalah semua milikku yang ada di dunia ini. Ya, ibu mempunyai hati yang begitu besar dan mulia,” terang Sukarno lagi.

Berbeda dengan ayahnya, Sukarno dididik begitu keras. Soekemi begitu tega menyuruh anaknya belajar membaca dan menulis berjam-jam lamanya. “Hayo Karno, hafal ini. Ha-Na-Ca-Ra-Ka. Karno hafal ini. Hafal ini, A-B-C-D-E dan terus-menerus sampai kepalaku yang malang ini merasa sakit,” jelas Sukarno mengenang kerasnya pendidikan ayahnya.

Soekemi memang memiliki keyakinan bahwa suatu saat anaknya yang lahir di saat fajar menyingsing itu kelak akan menjadi orang yang disegani. Suatu saat Sukarno membuat ayahnya marah ketika ia naik pohon jambu dan tak sengaja membuat sarang burung jatuh ke tanah. “Bukankah engkau sudah ditunjuki untuk melindungi makhluk Tuhan?” hardik Soekemi.

“Sekalipun dengan permintaan maaf demikian, Bapak memukul pantatku dengan rotan. Aku seorang yang baik laku, akan tetapi Bapak menghendaki disiplin yang keras dan cepat marah kalau aturannya tidak dituruti,” imbuh Sukarno mengenang kenalan di masa kanak-kanaknya itu.

Tapi setelah Sukarno dewasa, lebih-lebih setelah menjadi Presiden RI, ia kerap merayakan Idul Fitri dengan gembira hati. Ia dikenal kerap merayakan Idul Fitri bersama rakyat. Beberapa kali ia melaksanakan salat Id (Idul Fitri) di daerah lain. Seperti salat Idul Fitri di Lapangan Banteng, Jakarta, pada 1950. Begitu juga berlebaran dan salat Id di Lapangan Merdeka, Sukabumi, Jawa Barat, pada 1951.

 

(*Sumber : Sukarno an Autobiography as Told Cindy Adam/ detik.com/Alif.id/Eko Octa)

SHARE

KOMENTAR