Adian : Hilangkan Pikiran Beri Amplop!, Rakyat itu Terhormat

104
Adian Napitupulu

Aartreya – Rakyat harus diposisikan di tempat terhormat. Bukan sekedar obyek jual beli suara saat pemilu. Rakyat harus diorganisir dan menjadi subyek bernegara, berkomunikasilah dengan baik kepada rakyat.

Hal itu disampaikan politisi muda PDI Perjuangan, Adian Napitupulu yang juga anggota DPR RI, saat bersama Bane Raja Manalu, mendampingi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menghadiri rapat kerja daerah (Rakerda) PDIP Kalimantan Selatan, di Banjarmasin, dilansir dari Liputan6.com, Sabtu (3/12/2022).

Menjadi pembicara di hadapan ratusan kader utama PDI Perjuangan se-Kalimantan Selatan  dengan tema membangun dedikasi dan semangat juang kader partai, Adian mengatakan, seluruh anggota dan kader PDI Perjuangan adalah aktivis pergerakan yang tugasnya cuma satu, yakni mengorganisir rakyat.

“Karena tanpa mengorganisir diri dan rakyat, kita bukan siapa-siapa. Kalau kita sendiri, kita bukan siapa-siapa,” kata Adian.

“Bagaimana cara mengorganisir rakyat? Uang bukanlah jawabannya. Suara rakyat tak perlu dibayar dengan uang amplop. Rakyat tak boleh jadi obyek jual beli, rakyat itu terhormat,” tandasnya.

Maka, sambung Adian, langkah pertama, hilangkan dulu pikiran bahwa rakyat yang kita wakili hanya sekedar diberi amplop berisi uang. Kedua, berbuat yang terbaik kepada rakyat, maka rakyat takkan bertanya apa agama dan suku, namun akan bisa melihat ketulusan dari tindakan.

Adian lalu bercerita panjang tentang apa yang dia lakukan di Pongkor, Kabupaten Bogor saat menginisiasi warga Pongkor untuk membentuk koperasi. Sehingga dibolehkan menambang atas Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di Pongkor yang dimiliki BUMN.

Rakyat yang dulunya ditangkapi, setelah diorganisir, dilatih manahemen, tata cara menambang yang memenuhi stabdar keselamatan, dan kemudian bergabung di dalam koperasi. Koperasi dengan anggota yang telah dilatih tsb kini sudah boleh menambang. Bahkan kata Adian, dalam 6 bulan ke depan, koperasi rakyat ini sudah akan mengolah sendiri.

“Saya lakukan bukan demi suara. Tapi sederhana, berbuat baik ke rakyat dan rakyat akan tahu siapa yang berbuat baik dengan tulus,” ujar Adian.

Begitupun dengan pengorganisasian rakyat di Cileungsi untuk memiliki tanah yang dulu dikuasai oleh yayasan yang terafiliasi Soeharto. “Tanah tersebut setelah melalui perjuangan panjang, menjadi tanah untuk rakyat," ujar Adian.

Adian juga menberi contoh di Lebak Wangi, Bogor, dimana rakyat desa diorganisir untuk memanfaatkan waduk menjadi sumber penghidupan. Hasiknya, hari ini 144 desa rakyat desa bekerja di sana, dengan 22 orang anak muda Karang Taruna digaji dari BumDes yang mengelolanya.

“Ini bukti bahwa ketika kita mau mengorganisir rakyat desa menjadi subyek bukan obyek, itu bisa. Rakyat harus jadi subyek bernegara, harus diorganisir agar semakin besar keterlibatannnya dalam bernegara. Itulah tugas kita,” kata Adian.

“Saya berharap kita sebagai kader PDI Perjuangan harus berbeda dengan kader partai lain. Kita harus perbaiki dan ubah cara kita mengorganisir rakyat. Supaya suatu saat rakyat akan mengatakan, dalam pemilu, saya memilih orang baik, bukan memilih amplop,” tandasnya.

(Sumber : Liputan6.com/ Eko Octa)  

SHARE

KOMENTAR